upacara bendera di sekolah

Upacara Bendera: Ini Pengalamanku Menjadi Petugas Pengibar Bendera

Upacara bendera… Siapa sih, yang tidak pernah mengikuti upacara bendera? Hampir setiap kamu tentu pernah mengikutinya, kan? Entah itu di sekolah, di tempat kerja, ataupun di lapangan RW dalam rangka tujuh belasan.

Saya pribadi, hanya mengalami upacara bendera pada saat masih sekolah saja. Dari mulai SD ketika masih imut-imut, SMP pada saat jadi ababil centil, hingga SMA yang sudah mulai sok dewasa.

Upacara Bendera: Penting Nggak Penting

Seberapa pentingnyakah upacara bendera itu diadakan? Bagi saya, upacara bendera itu penting. Karena pada saat itulah waktu yang pas buat ngeceng (ups!). Maaf ya, yang barusan itu jawaban ngawur, sekaligus julit.

Nah ini, alasan yang bener. Upacara bendera itu penting untuk memupuk jiwa patriotisme dan nasionalisme. Ah, pelajaran PKn banget, ya?

Akan tetapi, bukankah indikator sikap patriotisme dan nasionalisme tidak hanya ditentukan oleh upacara bendera saja? Yup, kamu benar sekali. Upacara bendera hanyalah salah satu dari sekian banyak contoh sikap patriotisme dan nasionalisme. Namun, saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika upacara bendera ini ditiadakan.

Pemikiran saya sih, simple saja. Selama kegiatan tersebut tidak merugikan dan malah bermanfaat, mengapa tidak? Toh, ini hanyalah ritual sederhana yang hanya memakan waktu sekitar 30-60 menit. Tidak seperti wajib militer di Korea, yang menghabiskan waktu 2 tahun. Lho, kok nyambung ke sana? Hehe

Balik lagi ke upacara bendera, ini nih salah satu manfaat yang saya rasakan. Saya dilatih lebih disiplin. Minimal agar tidak datang terlambat. Supaya tidak dihukum disetrap di tengah lapangan, di depan seluruh teman sekolah.

Oke, kita stop saja ya, pembahasan mengenai urgensi dan manfaat upacara bendera ini. Karena akan sangat panjang dan dapat dijadikan materi sebuah buku.

Sekarang, saya ingin berbagi mengenai pengalaman saya menjalani upacara bendera sewaktu di SMP.

Upacara Bendera Itu Seru!

Pengalaman upacara bendera yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat SMP. Mengapa? Karena itulah masa di mana saya merasakan asam pahitnya mengikuti ekskul Paskibra. Walau hanya ikut-ikutan saja.

Pada saat itu, upacara bendera adalah saat-saat di mana bisa mantengin kakak senior Paskibra yang lagi jadi petugas pengibar bendera. Ngeliat betapa gagahnya mereka. Khayalan pun langsung berkelana, kalau suatu saat dapet kesempatan di posisi itu, pasti gue keren banget! (Uhuk)

Lebih seru lagi, kalo ternyata yang jadi petugas upacara itu adalah kecengan. Wah, serasa dapet jackpot!

Sepanjang upacara berlangsung, saya memperhatikan bagaimana sang pengibar bendera tersebut menjalankan tugasnya. Ada beberapa kesimpulan yang saya dapatkan setelah sekian lama melakukan pengamatan.

1.Β  Awal upacara:

Ketika seluruh petugas memasuki lapangan upacara, trio pengibar bendera akan terlihat paling gagah dan penuh percaya diri. Tambah keren lagi dengan topi eksklusif Paskibranya yang hanya digunakan oleh mereka bertiga.

2. Pertengahan upacara:

Menjelang saat-saat pengibaran bendera, muka mereka akan terlihat menegang. Namun, ini tergantung jam terbang juga, sih. Jika yang menjadi petugas adalah senior, biasanya dia masih bisa terlihat lebih tenang.

3.Β  Akhir upacara:

Ekspresi muka mereka akan sangat bergantung pada proses dan hasil pengibaran bendera. Jika pengibaran bendera dilakukan dengan tanpa cacat, kepala mereka akan tetap tegak hingga akhir, dihiasi senyum kharismatiknya. Namun, jika ada kesalahan yang dilakukan, kepala mereka akan tertunduk lesu. Semakin besar kesalahan yang dilakukan, semakin dalam kepalanya tertunduk tertarik gravitasi Bumi. Kesan gagah, keren, dan percaya diri pun seakan lenyap entah ke mana.

Itulah analisis saya selama mengamati patugas pengibar bendera pada upacara hari Senin di SMP tercinta. Namun, ternyata pengamatan ini tidak cukup sampai upacara berakhir.

Ketika para peserta upacara bergerombol memasuki kelas masing-masing, saya sering memergoki sang pengibar bendera tengah berolahraga, hanya bertiga saja. Ketiga orang itu melakukan gerakan jongkok dan berdiri secara bersamaan sambil menghitungnya.

Eh, ternyata mereka bukan sedang berolahraga, saudara-saudara. Namun, sedang menghukum diri mereka sendiri.

Setelah dilantik menjadi anggota Paskibra, saya baru tahu bahwa ada suatu peraturan tidak tertulis yang “mewajibkan” Paskibra melakukan hukuman gerakan jongkok-berdiri yang disingkat jongki atau disebut juga bending jika melakukan kesalahan. Banyaknya hukuman tergantung banyaknya kesalahan yang dilakukan.

Belakangan, ketika menjalani OSPEK, saya baru tahu bahwa gerakan jongkok-berdiri tersebut dapat berbahaya bagi wanita.

Akhirnya, Jadi Petugas Pengibar Bendera Juga

Setelah sekitar 2 tahun menjadi anggota Paskibra, akhirnya saya mendapatkan kesempatan menjadi pengibar bendera. Sebelumnya, saya pernah juga sih menjadi petugas upacara. Namun, pada upacara penurunan bendera. Otomatis, tugas pada saat itu pun untuk menurunkan bendera, bukan mengibarkan bendera.

Oke, saya harus mempersiapkan semuanya sematang mungkin. Jangan sampai melakukan kesalahan. Hari Sabtu sepulang sekolah, kami bertiga (saya, Ella, dan Astri) pun berlatih untuk persiapan hari Senin keramat tersebut.

Saya di posisi pengerek tali sekaligus danton. Ella di tengah, sebagai pembawa bendera. Sementara, Astri berada di sebelah kanan, sebagai pembentang bendera. Kami berlatih hingga semuanya dirasa oke.

Hari H pun tiba. Saya datang lebih pagi dari biasanya, dengan perasaan tidak karuan. Sebagai seorang perfeksionis, begitu banyak hal yang saya khawatirkan. Takut salah memberi aba-aba. Takut mengerek bendera terlalu cepat atau lambat. Takut ini. Takut itu. Duuh…

Singkat cerita, upacara penaikan bendera pun dimulai. Dan… tibalah prosesi penaikan bendera. Kami bertiga memulainya dengan cukup mulus.

Kami pun tiba di depan tiang bendera. Ella dan Astri mulai mengurai tali tiang bendera. Diikuti penyematan cantolan kawat yang terdapat di kedua ujung bendera pada cantolan kawat di tali tiang bendera. Bendera pun berhasil terpasang, tetapi masih terlipat rapi.

Astri memegang kedua ujung bendera dengan mengikuti pola tertentu agar bendera tidak terbelit. Dengan pasti, ia mundur 3 langkah. Dan… Brak! Ia pun membentangkan bendera dengan mulus. Tidak terbelit. Juga tidak terbalik. Syukurlah!

Lagu Indonesia Raya pun mulai berkumandang…

Saya mulai mengerek bendera dengan tempo tertentu yang telah dilatih sebelumnya. Dengan tempo tersebut, diperkirakan bendera akan sampai di atas tepat bersamaan dengan selesainya lagu kebangsaan dilantunkan. Sangat penting untuk kedua unsur ini (bendera dan lagu) berhenti bersamaan.

Satu kerekan… dua, tiga kerekan… Semuanya berjalan mulus. Hingga pada hampir pertengahan lagu, Bapak Pembina Upacara memberi isyarat kepada saya untuk mempercepat tempo kerekan. Saya berusaha mengabaikannya.

Namun, Bapak Pembina Upacara itu tidak juga menyerah melihat sikap cuek saya. Beliau malah mulai berbicara agak keras. “Lebih cepat! Ayo cepat!” katanya berulang kali. Sambil menengadah, memperhatikan laju bendera.

Interupsi tersebut membuat saya kehilangan konsentrasi. Saya pun melihat wajah Astri yang sedikit bingung. Tidak terasa, saya pun mempercepat gerakan tangan saya mengerek bendera.

Tidak lama, Beliau kembali memberi kode pada saya. “Lebih lambat!”, katanya.

“Duh, kenapa Bapak tidak berdiri anteng aja sih?” Batin saya.

Namun, karena telanjur kehilangan tempo, saya pun menuruti instruksinya.

“Iya, seperti itu.”

“Oke, bagus!”

Gumam Beliau.

Dipikir-pikir, kok Bapak ini sudah mirip dengan tukang parkir saja, ya. Bedanya, yang dia parkirkan bukan mobil. Tetapi bendera!

Pada saat lagu Indonesia Raya hampir selesai, sepertinya perjalanan bendera untuk mencapai puncak tiang masih cukup jauh. Karena Beliau kembali memberi instruksi untuk mempercepat tempo kerekan.

Saya pun tanpa pikir panjang mengamini instruksinya.

“Oke, Pak. Saya nurut aja, deh.” Batin saya pasrah.

Lagu Indonesia Raya pun selesai berkumandang. Tapi, kok kerekan bendera masih belum mentok juga ya? Wah, kacau nih. Apa yang saya takutkan terjadi. Bendera dan lagu tidak matching. Perlu beberapa kerekan lagi setelah lagu kebangsaan selesai hingga bendera dapat tiba di puncak tiang.

“Bapak Pembina Upacara, lain kali, tolong percayakan saja tugas ini pada muridmu yang kece ini, ya! Jangan bikin saya bingung.”

“Lagian, nggak baik lho Pak, ngobrol di tengah upacara sedang berlangsung.” Hehe

Sudah dapat ditebak. Sisa upacara bendera ini saya dan kedua teman saya akhiri dengan kepala tertunduk menatap tanah. Sambil dipenuhi pikiran, berapa seri ritual “jongkok-berdiri” yang akan kami lakukan.

Dan ini adalah upacara terakhir saya sebagai pengibar bendera. Tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi pengibar bendera yang keren dengan kepala tegak hingga akhir.

#1minggu1cerita

Photo Credit:

Ilustrasi upacara bendera by dyan design

Advertisements

10 thoughts on “Upacara Bendera: Ini Pengalamanku Menjadi Petugas Pengibar Bendera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s