Tentang Saya dan IndiHome

Tidak terasa, sudah lebih dari 6 tahun “kami” bersua. Ya, telah selama itulah “dia” menemani hari-hari saya. Mewarnai dunia saya, Dunia Anissa, yang lebih banyak dihabiskan di rumah. Kurang lengkap rasanya jika sehari saja dilalui tanpa kehadirannya.

Walaupun dia terkadang nakal, tetapi saya tidak dapat berlama-lama jauh darinya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, dia adalah sosok yang paling baik di mata saya.

Kini, dia telah berganti nama, berganti menjadi sosok yang lain. Namun, saya tetap menyukainya. Bahkan, semakin menyukainya. Karena dia telah berubah menjadi sosok yang lebih baik.

Inilah cerita “kami”. Cerita saya dan IndiHome, yang dulu bernama Speedy.

indihome

Pertemuan Pertama “Kami”

Saya tidak ingat, kapan tepatnya pertemuan pertama kami. Pada saat itu, saya baru saja berhenti bekerja sebagai Editor buku di salah satu penerbit di Bandung, dan memutuskan untuk menjadi penulis lepas.

Sebagai penulis lepas, aktivitas saya lebih banyak dihabiskan di rumah. Sesekali, saya pergi ke toko buku dan warnet (warung internet) untuk mengumpulkan bahan tulisan atau sekadar mencari inspirasi. Laptop menjadi teman baikku yang paling setia. Dan pada saat itulah, saya menyadari bahwa benar ucapan Stephen King berikut.

Writing is a lonely job

Menulis itu pekerjaan yang (membuatmu) kesepian …

Mengandalkan warnet dalam mengumpulkan bahan tulisan sangatlah tidak efektif. Ketika mood menulis sedang baik, namun memerlukan beberapa sumber informasi dari internet, proses menulis pun menjadi terhambat. Karena saya harus pergi ke warnet terlebih dahulu. Kemudian, ketika akan meneruskan tulisan yang sempat tertunda, akan terasa sulit menemukan mood itu kembali.

Alangkah asyiknya jika di rumah tersedia internet, pikir saya. Tidak perlu berlama-lama nongkrong di warnet yang koneksinya lelet. Dapat lebih eksis berinteraksi di media sosial agar tidak bosan kesepian. Dan yang terpenting, kegiatan menulis pun menjadi lebih lancar.

Kemudian, saya pun memutuskan untuk berlangganan Speedy. Pada saat itu, proses pendaftaran Speedy hanya bisa dilakukan di Plasa Telkom. Sekarang, proses tersebut jauh lebih mudah. Selain di Plasa Telkom, Anda dapat melakukan pendaftaran dengan menelepon 147 atau secara online di sini.

Beberapa hari setelah melakukan pendaftaran, petugas Telkom pun datang ke rumah. Kebetulan, di rumah saya telah tersedia telepon, jadi hanya tinggal memasang Speedy-nya saja. Tidak memerlukan waktu yang lama, layanan internet Speedy pun telah dapat dinikmati.

Sempat Berpindah ke Lain Hati

Interaksi saya dan Speedy tidaklah selalu mulus. Sesekali, koneksi internet mengalami gangguan. Layanan yang mengandalkan kabel tembaga ini begitu rentan terkena gangguan. Hujan gerimis saja dia tidak dapat menahannya. Dan yang paling parah lagi, ketika petir besar menyambar, internet saya pernah mati total.

Teknisi yang datang ke rumah memvonis bahwa modem Speedy saya telah menjadi korban sambaran petir dan harus diganti. Dia pun membantu saya membelikan modem baru dan memasangnya. Kurang dari sehari, Speedy pun telah dapat dinikmati kembali.

Namun, kendala kembali datang. Koneksi internet semakin sering mengalami gangguan. Hingga akhirnya, curhatan saya tentang-nya tertuang dalam tulisan Speedy: Kok, Ngadat Terus?.

Saya pun sempat memutus layanan Speedy dan beralih ke layanan internet yang lain, yang harganya lebih ekonomis. Namun, hasilnya mengecewakan. Baru saja seminggu menggunakannya, Saya langsung kapok. Modem USB yang baru saja dibeli untuk menggunakan layanan internet tersebut pun pensiun dini. Hingga kini, dia hibernasi di dalam laci meja kerja saya.

Walaupun agak rentan mengalami gangguan dan harganya relatif lebih mahal, namun bagi saya, Speedy masih lebih unggul jika dibandingkan dengan layanan internet lainnya. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, akhirnya saya balikan dengan Speedy.

Suatu hari, koneksi internet saya benar-benar terputus. Begitu juga telepon rumah. Akhirnya, terjawablah sumber masalah mengapa koneksi internet saya sering mengalami gangguan. Ternyata, biang keroknya adalah kabel telepon yang rusak karena layangan yang tersangkut.

Semenjak kabel telepon tersebut diganti, Speedy sudah jarang ngadat lagi. Namun tetap saja, setiap kali hujan petir datang, saya harus siap siaga mencabut kabel modem dari splitter. Untuk menghindari modem terkena sambaran petir.

Akhirnya, Jadi Juga Penulis (Walau) Amatir

Selanjutnya, Speedy selalu setia menemani keseharian saya. Terutama mempermudah saya dalam mengirimkan naskah buku yang akan diterbitkan. Ya, akhirnya kesampaian juga mimpi saya untuk menjadi penulis. Walau masih amatir.

Ide menjadi penulis sebenarnya bisa dibilang cukup nekat. Ini karena sejak duduk di bangku sekolah dasar, saya paling tidak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Kalau sudah diberi tugas mengarang, membuat puisi, menyadur tulisan, dan tugas-tugas sejenisnya, saya pasti angkat tangan.

Namun, takdir berkata lain. Kini, saya telah menelurkan lebih dari 25 buku kuliner, beberapa buku siswa pelajaran Matematika, dan beberapa buku lainnya. Semua ini pun berkat kepercayaan klien saya, Re! Media dan beberapa penerbit, yang memberikan kesempatan kepada saya yang masih bau kencur ini.

buku resep
Dua sahabat saya dan beberapa buku kuliner karya saya.

Walaupun masih amatir, namun ini merupakan prestasi yang cukup besar dalam hidup saya. Bayangkan saja, seorang yang anti dalam bidang tulis-menulis, kini telah menerbitkan puluhan buku. Benarlah kiranya pepatah yang mengatakan bahwa:

Where there’s a will, there’s a way.

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Seperti terlihat pada foto, kebanyakan buku saya adalah buku kuliner. Untuk sebuah naskah buku yang berisi sekitar 20 resep masakan, biasanya dilengkapi dengan puluhan bahkan ratusan foto berukuran besar yang totalnya dapat berukuran hingga mencapai lebih dari 1 GB.

Dengan adanya Speedy, proses mengirimkan naskah menjadi lebih mudah. Saya tinggal mengunggah file naskah beserta fotonya ke layanan penyimpanan file, lalu mengirimkan link-nya ke editor yang mengerjakan buku saya. Kemudian, editor akan mengunduh file tersebut. Sangat praktis.

Saya (menggunakan jilbab merah marun) bersama komunitas penulis “Penulispro” mengisi talk show di radio Mom and Kids. Ngobrol-ngobrol santai mengenai salah satu buku saya.

Menemukan Hobi Baru

Seiring bertambahnya buku yang saya tulis, semakin disadari begitu sedikit pengetahuan yang saya punya. Setiap buku baru dengan tema baru adalah tantangan yang harus ditaklukkan. Saya yang sama sekali tidak memiliki latar belakang tata boga ini dituntut untuk mendalami materi baru untuk buku baru tersebut. Semua itu saya lakukan secara otodidak. Memanfaatkan koneksi internet.

Selain itu, saya pun dituntut untuk sedikit mendalami bidang fotografi. Khususnya, food photography. Materi-materi untuk belajar motret makanan tersebut sebagian saya dapatkan dari editor yang mengerjakan buku saja. Selain itu, saya pun memaksakan diri untuk rajin membaca berbagai tutorial fotografi yang tersebar di dunia maya.

Kini, memotret makanan telah menjadi hobi baru saya. Hingga sekarang, meski tidak sedang mengerjakan buku kuliner, sesekali saya masih suka jeprat-jepret makanan. Apakah mungkin hobi memotret makanan ini akan mengantarkan saya untuk menemukan profesi baru, seperti food photografer? Atau mungkin food stylist? Hmmm… Kalaupun benar, sepertinya perjalanan ke arah sana masih sangat jauh. Namun, tidak ada yang tidak mungkin.

Menjadi Novelis dan Blogger Profesional, Mungkinkah?

Masih ada beberapa mimpi yang ingin saya raih. Salah satunya adalah menulis (paling tidak) sebuah novel yang isinya dapat menginspirasi hidup banyak orang. Sungguh, mimpi ini sangat sulit saya wujudkan. Mengingat saya bukanlah tipe penulis pujangga. Juga bukanlah tipe penulis yang mampu bercerita panjang kali lebar. Namun sekali lagi, tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Selain itu, saya pun ingin menjadi blogger profesional. Blogger yang membuat tulisan-tulisan bermutu, bukan hanya tulisan sampah yang mengejar rating SEO belaka. Oleh karena itulah, saya mulai aktif menulis pada blog sederhana yang sempat terbengkalai cukup lama ini.

Dengan ditemani Speedy, yang sekarang telah beralih menjadi IndiHome, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak nge-blog lagi. Dengan ditemani Speedy, yang sekarang telah beralih menjadi IndiHome, saya ingin kembali bermimpi dan mewujudkannya.

Beralih Menjadi IndiHome, Kini Speedy Nggak “Ngadat Terus” Lagi

Di akhir tahun 2015 lalu, Telkom mengganti kabel tembaga menjadi kabel optik (fiber optik). Praktis, modem internet yang digunakan pun harus diganti. Satu per satu, pengguna Speedy diarahkan untuk beralih ke IndiHome (Indonesia Digital Home). Semua ini dalam rangka terwujudnya #IndonesiaMakinDigital.

Sekarang, saya dapat menikmati layanan internet kabel optik yang lebih stabil. Tidak rentan gangguan hujan, bahkan sambaran petir. Kini, Speedy nggak “ngadat terus” lagi.

Dan yang lebih asyik, modem gratis baru yang disediakan Telkom ini dapat digunakan untuk wifi. Jadi, cukup memakai satu modem ini saja untuk menikmati internetan melalui laptop, ponsel pintar, dan tablet di rumah.

Tidak cukup sampai di sana, saya pun mendapatkan modem untuk menikmati UseeTV di televisi secara gratis. Jadi, layanan UseeTV yang asalnya hanya dapat dinikmati melalui laptop, ponsel pintar, atau tablet, kini dapat dinikmati lewat televisi.

Melalui layanan UseeTV ini, berbagai channel TV lokal (kecuali MNC Group) dan TV internasional dapat dinikmati. Bedanya nonton TV biasa dengan nonton TV pakai UseeTV ini, Anda dapat menonton siaran TV yang telah terlewat hingga 1 minggu yang lalu. Selain itu, Anda pun dapat dengan bebas memilih acara yang ingin ditonton, mem-pause, bahkan mempercepatnya.

Begitulah cerita saya dan IndiHome, yang dulu bernama Speedy. Dia memang bukanlah produk yang sempurna. Namun sejauh ini, saya melihat adanya kemajuan yang pesat. Terutama, semenjak adanya pergantian kabel tembaga menjadi kabel optik. Bagaimana dengan cerita Anda?

Advertisements

15 thoughts on “Tentang Saya dan IndiHome

  1. Telkom Indonesia memang juara iya mba, sayangnya kalau kerumahku belum bisa masuk. Sejak awal kepindahan ke bangka saya sudah telpon 147 untuk pasang, tapi sayang blum bisa.
    Hebat mba udah banyak terbitkan buku, cita cita saya tuch … Semoga suatu hari bisa nyusul tapi saya mau dinovel spesialisnya. Seperti kata pepatah terbitkanlah buku walaupun hanya 1 buah seumur hidupmu.
    Sukses selalu mba,

    • Wah, sayang bgt ya. mudah2an dalam waktu dekat bisa segera masuk ya fiber optic nya ke rumah Mbak Shanti. Semoga bisa jadi masukan buat Telkom…

      Alhamdulillah, modal nekat sih sebenarnya hehe…

      Wah, samaan nih kita. saya juga pengen banget bikin novel. nanti kita bisa tuker-tukeran buku ya kalo cita-citanya udah kesampean… Aamiin, sukses juga buat Mbak 😉

  2. Saya juga suka pakai IndiHome:)
    Internetan lancar, alhamdulillah.
    Cuma kalo mati listrik aja yang gak suka, karena internetnya ikutan mati.
    Terima kasih untuk ceritanya, semoga cita-citanya tercapai..aamiin.

    • Iya, itu juga yang saya nggak suka dari IndiHome. Kalo mati listrik nggak bisa internetan…
      Mudah2an jadi masukan buat Telkom untuk menyediakan modem yang bisa nyala tanpa listrik 😀

      Aamiin… Makasih banyak…

  3. Belum semua bisa pasang kok, kan tergantung lokasinya, apakah sudah dilalui FO atau blm.
    Kedepannya semoga segera bisa pakai. bagaimanapun, kita harus cinta dan menggunakan produk dalam negeri :))

  4. Mba, dulu aku sempet pakai speedy. Dan pas mau indi home belum ada jarnya jadi yg pakai yg lain..

    Oh iyah, aku ngga tau upload kompakan ada di fb dulu. Mba, food stylist masi jarang, kata mba @poeticpicture jadi okee banget tuh mba Icha ^^
    Keren ya bikin buku 🙂 sukses terus

    • Halo, Mbak Ucig…
      Belum ada jarnya gimana, ya? Aduh maaf, saya rada2 gaptek nih hehe 😀

      Iya, dulu waktu IG belum eksis, sering liat UK di FB temen. Sekarang ko malah menghilang. Sepertinya beralih ke IG ya sekarang mah?

      Iya nih, katanya masih jarang ya food stylist. Cuma masih bingung dari mana mulainya. Apakah kudu ngambil kelas khusus atau gimana…

      Alhamdulillaah, Mbak… Aamiin, sukses juga buat Mbak 😉

  5. Aq belum pake speedy tapi informasinya cukup lengkap cha.. thanks udah sharing.. pokoknya apapun fiber yang dipake, aq tetep bangga sama semua cipta karya nya icha.. bangga pokoknamah sama icha yang super duper baiknya, bertalenta, dan setia di jalurnya.. sukses selalu ya temans…. 👌👍

    • iih, ada Uwiw…

      Lebay, deh… jadi malu… da saya mah apa atuh, cuma amatiran hihi…😁

      Aamiin… nuhun pisan udah mampir di sini. Sukses juga buat uwie, yah 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s